{"id":141,"date":"2009-07-06T12:27:31","date_gmt":"2009-07-06T11:27:31","guid":{"rendered":"http:\/\/ihtiroom.staff.uns.ac.id\/?p=141"},"modified":"2009-07-06T12:28:40","modified_gmt":"2009-07-06T11:28:40","slug":"kedermawanan-sebagai-budaya-keluarga","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ihtiroom.staff.uns.ac.id\/?p=141","title":{"rendered":"Kedermawanan sebagai budaya keluarga"},"content":{"rendered":"<table style=\"height: 746px\" border=\"0\" cellspacing=\"0\" cellpadding=\"0\" width=\"453\">\n<tbody>\n<tr>\n<td width=\"483\" align=\"center\" valign=\"top\"><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"483\" align=\"left\" valign=\"top\"><span style=\"color: #000000\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"http:\/\/www.solopos.co.id\/soft\/img\/blank.gif\" alt=\"\" width=\"1\" height=\"15\" \/><\/span><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"483\" align=\"justify\" valign=\"top\"><span style=\"color: #000000\"><span style=\"font-size: x-small;font-family: verdana,arial\">Sesuatu akan terbiasa jika dibiasakan. Kaidah ini sangat tepat jika diberlakukan pada pola pendidikan anak dalam sebuah keluarga. <\/span><br \/>\n<\/span><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"483\" align=\"justify\" valign=\"top\"><span style=\"color: #000000\"> <span style=\"font-size: x-small;font-family: erdana,arial\"> Hal itu disarankan salah satu dosen Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo yang juga pengurus Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) Solo, Mohammad Muchtarom, saat ditemui Espos di kediamannya belum lama ini.<br \/>\nIa mencontohkan, jika orangtua menghendaki buah hatinya menjadi pribadi yang suka menolong orang lain, biasakan ia memberikan sesuatu kepada orang lain yang membutuhkan.<br \/>\n\u201dMisalnya suatu hari ada pengemis datang ke rumah atau ketika di perjalanan ada pengamen, biasakan anak untuk memberikan uang kepada pengemis itu. Oleh karena itu, katanya, orangtua sebaiknya tidak pelit memberikan uang kepada anaknya tapi diarahkan agar sebagian digunakan untuk berinfak,\u201d jelasnya.<br \/>\nPada saat meminta anak untuk memberikan uang kepada pengemis, sarannya, sesekali orangtua perlu memberikan penjelasan bahwa kehidupan para pengemis itu lebih memprihatinkan daripada dirinya. Sehingga mereka perlu ditolong. \u201dBiasakan juga anak untuk mensyukuri apa yang dianugerahkan Allah kepadanya,\u201d katanya.<br \/>\nDemikian halnya ketika ada tetangga yang sakit, terangnya, ajaklah anak untuk menengoknya. Atau ketika ada tetangga atau saudara meninggal dunia, tak ada salahnya orangtua mengajak anak. Sehingga jiwa kepekaannya akan tumbuh.<br \/>\n\u201dSuatu saat ketika orangtua baru saja bepergian dan membawa oleh-oleh, mintalah anak untuk mengantarkan oleh-oleh ke tetangga,\u201d jelasnya.<br \/>\nAplikatif<br \/>\nIntinya, tegas Muchtarom, kebiasaan itu harus aplikatif. Tak sekadar memberikan teori bahwa seorang muslim harus membantu orang lain, tapi langsung minta anak untuk mengaplikasikannya. Hal ini karena terkadang untuk melakukan suatu kebaikan, seseorang harus dipaksa.<br \/>\nSementara seorang mubalig dari Majelis Tafsir Alquran (MTA) Solo, Dr Suparno MAppSc, menegaskan sifat kedermawanan seseorang akan terpancar dalam pribadi yang berakhlak mulia.<br \/>\nAllah SWT berfirman, \u201dDan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian,\u201d(QS Al Furqon: 67).<br \/>\n\u201dNamun demikian ketika beramal seseorang tidak boleh berlebih-lebihan. Harus sesuai kemampuan dan tidak memaksakan diri, \u201d katanya.<br \/>\nDalam kitab Riyadhus Shalihin, karya Imam Nawawi, dijelaskan salah satu dasar perintah membantu orang lain adalah firman Allah SWT, \u201cDan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan,\u201d (QS Al Insan: 8).<br \/>\nDikisahkan juga satu riwayat yang menggambarkan bagaimana kebiasaan membantu orang lain tercermin dalam keluarga Rasulullah dan para sahabat. Dari Abu Hurairah RA dia berkata, \u201cSeorang laki-laki datang kepada Nabi Muhammad SAW, dia berkata, \u2018Sesungguhnya saya sangat kesusahan,\u2019 Maka beliau mengirimkannya kepada sebagian istri-istri beliau, maka istri beliau berkata, \u2018Demi Allah yang mengutus anda dengan kebenaran, saya tidak memiliki (apa-apa) kecuali hanya air.\u2019 Kemudian beliau mengirimnya kepada istri yang lain, maka diapun menjawab seperti jawaban tadi, hingga seluruh istri beliau menjawab dengan jawaban yang sama, \u2018Tidak demi Allah yang mengutus anda dengan benar saya tidak memiliki selain air.\u2019 Maka Nabi Muhammad SAW bersabda, \u2018Siapa yang dapat menjamu tamu ini pada malam ini? Maka seorang dari kaum Anshar berkata, \u2018Saya wahai Rasulullah,\u2019 Lalu dia berangkat membawanya ke rumahnya. Dia berkata kepada istrinya, \u2018Muliakanlah tamu Rasulullah ini.\u2019 Dalam satu riwayat dia berkata kepada istrinya, \u2018Apakah kamu mempunyai sesuatu?\u2019 Dia menjawab, \u2019Tidak kecuali makanan anak-anak kita.\u2019 Dia berkata, \u2019Hiburlah mereka dengan sesuatu dan jika mereka hendak makan malam maka tidurkanlah mereka, dan apabila tamu kita masuk maka padamkanlah lampunya, dan perlihatkanlah seolah-olah kita ikut makan.\u2019 Kemudian mereka duduk dan tamu itu makan, sementara sahabat dan istrinya semalaman dalam keadaan lapar. Maka ketika pagi tiba sahabat itu pergi menemui Nabi Muhammad SAW, beliau lalu bersabda, \u2019Sungguh Allah telah kagum pada perbuatan kalian dalam menjamu tamu semalam,\u201d (HR Bukhari-Muslim). ::<strong>Eni Widiastuti<\/strong>::<\/span><\/span><\/p>\n<p>sumber:<a href=\"http:\/\/www.solopos.co.id\/soft\/khazanah_detail.asp?id=278337\"><span style=\"color: #000000\"><span style=\"font-size: x-small;font-family: erdana,arial\">http:\/\/www.solopos.co.id\/soft\/khazanah_detail.asp?id=278337<\/span><\/span><\/a><\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sesuatu akan terbiasa jika dibiasakan. Kaidah ini sangat tepat jika diberlakukan pada pola pendidikan anak dalam sebuah keluarga. Hal itu disarankan salah satu dosen Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo yang juga pengurus Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) Solo, Mohammad Muchtarom, saat ditemui Espos di kediamannya belum lama ini. Ia mencontohkan, jika orangtua<br \/><a class=\"moretag\" href=\"https:\/\/ihtiroom.staff.uns.ac.id\/?p=141\">+ Read More<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":127,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9678],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ihtiroom.staff.uns.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/141"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ihtiroom.staff.uns.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ihtiroom.staff.uns.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ihtiroom.staff.uns.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/127"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ihtiroom.staff.uns.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=141"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/ihtiroom.staff.uns.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/141\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ihtiroom.staff.uns.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=141"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ihtiroom.staff.uns.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=141"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ihtiroom.staff.uns.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=141"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}