{"id":213,"date":"2011-02-18T03:30:35","date_gmt":"2011-02-18T02:30:35","guid":{"rendered":"http:\/\/ihtiroom.staff.uns.ac.id\/?p=213"},"modified":"2011-02-18T03:30:35","modified_gmt":"2011-02-18T02:30:35","slug":"saya-anti-demokrasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ihtiroom.staff.uns.ac.id\/?p=213","title":{"rendered":"Saya Anti Demokrasi"},"content":{"rendered":"<p><strong>SAYA ANTI <\/strong><strong>DEMOKRASI<\/strong><\/p>\n<p><strong>oleh : Emha Ainun Nadjib<\/strong><\/p>\n<p>Kalau  ada bentrok antara Ustadz dengan Pastur, pihak Depag, Polsek, dan  Danramil harus menyalahkan Ustadz, sebab kalau tidak itu namanya  diktator mayoritas. Mentang-mentang Ummat Islam mayoritas, asalkan yang  mayoritas bukan yang selain Islam &#8211; harus mengalah dan wajib kalah.  Kalau mayoritas kalah, itu memang sudah seharusnya, asalkan mayoritasnya  Islam dan minoritasnya Kristen. Tapi kalau mayoritasnya Kristen dan  minoritasnya Islam, Islam yang harus kalah. Baru wajar namanya.<\/p>\n<p><!--more--><\/p>\n<p>Kalau  Khadhafi kurang ajar, yang salah adalah Islam. Kalau Palestina banyak  teroris, yang salah adalah Islam. Kalau Saddam Hussein nranyak, yang  salah adalah Islam. Tapi kalau Belanda menjajah Indonesia 350 tahun,  yang salah bukan Kristen. Kalau amerika Serikat jumawa dan adigang  adigung adiguna kepada rakyat Irak, yang salah bukan Kristen. Bahkan  sesudah ribuan bom dihujankan di seantero Bagdad, Amerika Serikatlah  pemegang sertifikat kebenaran, sementara yang salah pasti adalah Islam.<\/p>\n<p>&#8220;Agama&#8221;  yang paling benar adalah demokrasi. Anti demokrasi sama dengan setan  dan iblis. Cara mengukur siapa dan bagaiman yang pro dan yang kontra  demokrasi, ditentukan pasti bukan oleh orang Islam. Golongan Islam  mendapat jatah menjadi pihak yang diplonco dan dites terus menerus oleh  subyektivisme kaum non-Islam.<\/p>\n<p>Kaum Muslimin diwajibkan  menjadi penganut demokrasi agar diakui oleh peradaban dunia. Dan untuk  mempelajari demokrasi, mereka dilarang membaca kelakuan kecurangan  informasi jaringan media massa Barat atas kesunyatan Islam.<\/p>\n<p>Orang-orang  non-Muslim, terutama kaum Kristiani dunia, mendapatkan previlese dari  Tuhan untuk mempelajari Islam tidak dengan membaca Al-Quran dan  menghayati Sunnah Rasulullah Muhammad SAW, melainkan dengan menilai dari  sudut pandang mereka.<\/p>\n<p>Maka kalau penghuni peradaban  global dunia bersikap anti-Islam tanpa melalui apresiasi terhadap  Qur&#8217;an, saya juga akan siap menyatakan diri sebagai anti- demokrasi  karena saya jembek dan muak terhadap kelakuan Amerika Serikat di  berbagai belahan dunia. Dan dari sudut itulah demokrasi saya nilai,  sebagaimana dari sudut yang semacam juga menilai Islam.<\/p>\n<p>Di  Yogya teman-teman musik Kiai Kanjeng membuat nomer-nomer musik, yang  karena bersentuhan dengan syair-syair saya, maka merekapun memasuki  wilayah musikal Ummi Kaltsum, penyanyi legendaris Mesir. Musik Kiai  Kanjeng mengandung unsur Arab, campur Jawa, jazz Negro dan entah apa  lagi. Seorang teman menyapa: &#8220;Banyak nuansa Arabnya ya? Mbok lain kali  bikin yang etnis &#8216;gitu&#8230;&#8221;<\/p>\n<p>Lho kok Arab bukan etnis?<\/p>\n<p>Bukan.  Nada-nada arab bukan etnis, melainkan nada Islam. Nada Arab tak diakui  sebagai warga etno-musik, karena ia indikatif Islam. Sama-sama kolak,  sama-sama sambal, sama-sama lalap, tapi kalau ia Islam-menjadi bukan  kolak, bukan sambal, dan bukan lalap.<\/p>\n<p>Kalau Sam Bimbo  menyanyikan lagu puji-puji atas Rasul dengan mengambil nada Espanyola,  itu primordial namanya. Kalau Gipsy King mentransfer kasidah &#8220;Yarim  Wadi-sakib.. .&#8221;, itu universal namanya. Bahasa jelasnya begini: apa  saja, kalau menonjol Islamnya, pasti primordial, tidak universal, bodoh,  ketinggalan jaman, tidak memenuhi kualitas estetik dan tidak bisa masuk  jamaah peradaban dunia.<\/p>\n<p>Itulah matahari baru yang kini  masih semburat. Tetapi kegelapan yang ditimpakan oleh peradapan yang  fasiq dan penuh dhonn kepada Islam, telah terakumulasi sedemikian  parahnya. Perlakuan-perlakuan curang atas Islam telah mengendap menjadi  gumpalan rasa perih di kalbu jutaan ummat Islam. Kecurangan atas Islam  dan Kaum Muslimin itu bahkan diselenggarakan sendiri oleh kaum Muslimin  yang mau tidak mau terjerat menjadi bagian dan pelaku dari mekanisme  sistem peradaban yang dominan dan tak ada kompetitornya. &#8220;Al-Islamu  mahjubun bil-muslimin&#8221;. Cahaya Islam ditutupi dan digelapkan oleh orang  Islam sendiri.<\/p>\n<p>Endapan-endapan dalam kalbu kolektif ummat  Islam itu, kalau pada suatu momentum menemukan titik bocor &#8211; maka akan  meledak. Pemerintah Indonesia kayaknya harus segera merevisi metoda dan  strategi penanganan antar ummat beragama. Kita perlu menyelenggarakan  &#8216;sidang pleno&#8217; yang transparan, berhati jernih dan berfikiran adil.  Sebab kalau tidak, berarti kita sepakat untuk menabuh pisau dan mesiu  untuk peperangan di masa depan.<\/p>\n<p>Sumber : Buku Emha\u00a0<a rel=\"nofollow\" href=\"http:\/\/www.goodread\/\" target=\"_blank\">http:\/\/www.goodread\/<\/a> s.com\/book\/ show\/1380373. Iblis_Nusantara_ Dajjal_Dunia<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SAYA ANTI DEMOKRASI oleh : Emha Ainun Nadjib Kalau ada bentrok antara Ustadz dengan Pastur, pihak Depag, Polsek, dan Danramil harus menyalahkan Ustadz, sebab kalau tidak itu namanya diktator mayoritas. Mentang-mentang Ummat Islam mayoritas, asalkan yang mayoritas bukan yang selain Islam &#8211; harus mengalah dan wajib kalah. Kalau mayoritas kalah, itu memang sudah seharusnya, asalkan<br \/><a class=\"moretag\" href=\"https:\/\/ihtiroom.staff.uns.ac.id\/?p=213\">+ Read More<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":127,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11224],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ihtiroom.staff.uns.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/213"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ihtiroom.staff.uns.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ihtiroom.staff.uns.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ihtiroom.staff.uns.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/127"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ihtiroom.staff.uns.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=213"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/ihtiroom.staff.uns.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/213\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ihtiroom.staff.uns.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=213"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ihtiroom.staff.uns.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=213"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ihtiroom.staff.uns.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=213"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}